Lasongko merupakan teluk terbesar dari 10 teluk di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara. Dengan luas mencapai 13,6 km2, teluk ini dapat menjadi lumbung ikan terbesar di Indonesia jika ditangani secara arif bijaksana dan sungguh-sungguh.
Kekayaan alam laut di Teluk Lasongko dan sekitarnya sangatlah luas dan kaya. Teluk yang berada di Pulau Muna yang secara administratif berada di dua kecamatan; Lakudo (75 persen) dan Mawasangka (25 persen) ini sungguh unik.
Bukan apa-apa, secara geografis, mulut teluknya menghadap ke selatan. Dengan kondisi semacam ini, pantai sebelah barat dan timur Lakudo terlindung dari gempuran ombak di musim timur yang terjadi pada Mei sampai Agustus.
Kondisi ini tentu sangat membantu nelayan, baik ketika perahu atau kapal membuang jangkar saat bersandar ke pelabuhan maupun saat sedang melaut. Perahu atau kapal menjadi lebih mudah dikendalikan.
Soal kedalaman teluknya juga cocok untuk melayani pelayaran dengan kapal-kapal niaga besar. Bayangkan, dengan kedalaman laut antara 30-50 meter, semua jenis kapal dapat melintas dengan aman.
Cuaca di siang hari memang relatif panas menyengat. Tercatat suhu udara maksimum di Lasongko mencapai 34 oC. Kendati demikian, angin semilir bertiup seakan ingin mengusir hawa panas tersebut.
Sebaliknya di malam hari, suasananya sungguh menyejukkan hati. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Buton, suhu udara minimumnya pernah mencapai 21,6 oC.
Tumbuh Subur
Potensi Teluk Lasongko tak perlu diragukan lagi. Semua ekosistem pesisir terpampang di sana. Mulai dari hutan mangrove, padang lamun (sea grass), dan terumbu karang tumbuh dengan suburnya.
Mangrove adalah sumber kehidupan bagi udang, ikan, kepiting, dan biota laut lainnya. Dulu, nelayan tak perlu jauh melaut untuk menangkap udang, ikan, dan kepiting. Mereka cukup beroperasi di sekitar mangrove. Dengan sedikit usaha, namun hasil tangkapannya berjibun.
Begitu juga dengan perairan yang memiliki himpunan terumbu karang. Ekosistem ini berasosiasi dengan beragam jenis ikan. Semakin subur terumbu karang, kumpulan ikannya pun semakin beragam dan berlimpah ruah.
Sementara itu, padang lamun merupakan salah satu rantai makanan bagi biota laut seperti ikan dugong dan ikan-ikan ekonomis lainnya. Perairan yang memiliki padang lamun subur biasanya dihuni aneka jenis ikan.
Itulah mengapa sejak dulu kala Lasongko menjadi daerah tujuan penangkapan ikan bagi nelayan-nelayan dari luar daerah. Mereka terus menguras potensi laut itu secara gratis.
Awalnya kegiatan penangkapan ikan tersebut masih bersifat tradisional. Menurut Aris Kabul Pranoto, MSi dalam bukunya berjudul Implementasi Kebijakan Publik Dalam Pemberdayaan Masyarakat Pesisir, alat tangkap yang digunakan oleh masyarakat Lakudo dan sekitarnya meliputi gillnet (jaring thitil), pancing, bubu, dan bagan.
Alat tangkap tersebut dioperasikan dengan menggunakan perahu (jukung) dan perahu motor tempel. Berdasarkan data tahun 2001, tercatat ada 79 unit perahu, 37 unit perahu motor tempel berkapasitas 5,5 PK, dan 30 unit kapal motor.
Kini, baik alat tangkap maupun kapalnya sudah semakin modern dan banyak jumlahnya. Berbagai alat tangkap ikan yang supereksploitatif pun digunakan demi untuk mendapatkan hasil tangkapan maksimal dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Tak hanya itu, kegiatan budidaya pun semakin gencar digalakkan. Perairan yang masih bersih dan subur itu dimanfaatkan untuk membudidayakan rumput laut. Sebagian lainnya dipakai untuk membudidayakan ikan dalam empang (keramba batu) dan keramba jaring apung.
Menurut Aris, potensi budidaya laut di Teluk Lasongko mencapai 11.660 ha. Kalau potensi ini dimanfaatkan, sudah dapat diduga, dari teluk ini akan mampu menghasilkan lumbung ikan yang berlimpah ruah.
Potensi semacam ini mestinya menjadi perhatian bersama sehingga Buton memiliki pusat pertumbuhan ekonomi di bidang perikanan yang dapat diandalkan. Membangun potensi laut di Buton mestinya menjadi paradigma baru.
Apalagi alam darat di Buton memang kurang mendukung. Untuk bercocok tanam misalnya, petani masih banyak mengandalkan air dari curah hujan. Padahal, musim kemaraunya lebih panjang daripada musim penghujan.
Sarana irigasinya pun masih sangat terbatas. Dengan demikian dalam satu tahun, petani hanya mampu membudidayakan selama dua kali masa tanam. Sisanya, selama empat bulan sawah dibiarkan begitu saja karena memang ketiadaan air untuk tanaman.
Sebaliknya, potensi lautnya sangatlah kaya dan menantang. Lebih dari itu, secara geografis posisi Buton sangat strategis yang menghubungkan kawasan timur dan tengah Indonesia.
Menjadi Lumbung
Tak sulit sebenarnya Lasongko dijadikan lumpung ikan nasional asal ditangani secara arif bijaksana dan sungguh-sungguh. Di bidang perikanan tangkap misalnya, perlu ditata ulang. Berbagai kebijakan harus dikeluarkan agar potensi ikan tetap lestari.
Alat-alat tangkap yang tak ramah lingkungan harus disirnakan. Jangan ada lagi penggunaan bom, racun (potasium), setrum listrik, dan pukat harimau dalam menangkap ikan.
Bukan apa-apa, bom, racun, dan setrum listrik terbukti membunuh beragam jenis ikan dan biota laut lainnya yang tidak menjadi target nelayan. Bahkan terumbu karang yang selama ini menjadi sumber kehidupan bagi biota laut ikut hancur berkeping-keping.
Sedangkan pukat harimau terbukti ikut menggasak ikan-ikan nontarget yang tak memiliki nilai ekonomis. Padahal, ikan-ikan semacam ini menjadi penyeimbang dari rantai energi bagi ekosistem perairan.
Ketika Teluk Lasongko minim stok ikan, stop dulu penangkapan ikan. Beri kesempatan ikan-ikan itu untuk berkembang biak, memijah, dan membesarkan anak-anaknya. Kalau perlu, lakukan restocking dengan jalan menyebarkan benih-benih ikan yang memang cocok tumbuh dan berkembang biak di Lasongko.
Sementara itu, di bidang perikanan budidaya perlu ditata sedemikian rupa sehingga tidak mengurangi daya dukung alamnya. Biarkan hutan mangrove menyelimuti pesisir Lasongko yang berlumpur. Sebab, dari ekosistem tersebut dapat tumbuh dan berkembang udang, ikan, kepiting, teripang, dan lain-lain.
"Kita tak boleh mengulangi kesalahan yang sama seperti yang telah terjadi di pantai utara (Pantura) Jawa. Ketika itu, banyak tambak udang dibuka dengan membabat hutan mangrove," katanya.
Hasilnya, pada awalnya memang bagus. Namun setelah itu pembudidaya tak dapat mengenyam hasil panen udangnya. Justru yang terjadi, mereka rugi besar karena udang-udang itu terserang aneka penyakit mematikan. Kini, tambak-tambak itu dibiarkan terbengkelai alias mangkrak.
Upaya lain yang tak kalah pentingnya adalah dalam budidaya perikanan melalui keramba jaring apung (KJA). Jumlahnya harus disesuaikan dengan kapasitas perairan. Para peneliti perlu mendalami berapa persen luas KJA yang ideal di Lasongko.
Pembudidaya perlu dikenalkan dengan teknologi ramah lingkungan. Melalui berbagai upaya tersebut, niscaya mereka dapat memetik keuntungan sepanjang masa.
Pertahankan Mangrove dan Terumbu Karang di Teluk Lasongko
Mengapa mangrove dan terumbu karang di Teluk Lasongko harus dipertahankan? Jawabnya, keduanya sangat berguna dalam menjaga populasi biota laut secara lestari. Tak ada mangrove dan terumbu karang berarti tak ada kehidupan. Nelayan pun bakal gigit jari.
Lebih dari itu, mangrove juga berfungsi melindungi daratan, baik dari angin laut yang kencang maupun gempuran ombak. Bisa dibayangkan kalau daratan itu tak dilindungi hutan mangrove. Yang terjadi adalah angin laut itu bebas berhembus dan merusak tanaman pertanian di sekitarnya.
Selain itu, daratan pantainya juga mudah terkena abrasi. Sekali lagi lihatlah kelalaian kita memperlakukan hutan mangrove di Pantura Jawa, khususnya di kawasan Indramayu, Jawa Barat.
Kecerobohan itu harus dibayar mahal. Betapa tidak, abrasi telah mengikis ke arah jalan raya Pantura yang selama ini menjadi urat nadi perekonomian di Pulau Jawa. Di samping itu, abarasi juga telah merangsek ke pantai-pantai indah yang menjadi objek wisata.
Hal serupa juga dapat terjadi di Teluk Lasongko jika saja kita masih berulah melenyapkan terumbu karang. Dari berbagai riset membuktikan, terumbu karang mampu menjadi tameng dari gempuran arus laut yang menerjang ke daratan.
Jadi, selagi masih ada terumbu karang dan hutan mangrove, mari kita jaga dan selamatkan bersama. Yang telah sirna, ayo kita tanam lagi.
Ketika kita memperlakukan alam secara arif bijaksana semacam ini, ia pun akan setia memberikan manfaat tanpa henti

0 komentar:
Posting Komentar